willyMahasiswa perlu mendapat wawasan yang lebih luas, tak hanya dari perkuliahan atau membaca buku di kampus. Pengalaman seorang praktisi di bidang media sangat penting untuk dibahas di kelas. Karena itu Prodi Ilmu Komunikasi menghadirkan praktisi media Willy Pramudya, seorang wartawan Warta Pos di Jakarta. Willy Pramudya, anggota komisi etik Aliansi Jurnalis Independen (AJI), juga salah satu anggota tim penyusun kode etik media online sekaligus pernah menjadi  editor Kompas.com.

Tema kuliah tamu kali ini (22/3)  adalah “Etika Penulisan Berita Tentang Terorisme”. Menurut Willy Pramudya, media online sekarang ini banyak yang hanya memikirkan kecepatan tetapi mengesampingkan akurasi. “Kecepatan memang sangat penting untuk media online, tetapi jangan lupa akurasi,” kata Willy. Saat kejadian bom di jalan Thamrin Jakarta Pusat, anyak media online melakukan kesalahan. “Ada media yang mempertontonkan mayat, ini melanggar kode etik,” ujar Willy. “Selain itu, ada media cetak yang menulis secara berlebihan. Di Jawa Timur ada koran membuat judul “Teroris Jancuk!”.

Willy PramudyaKuliah Tamu ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa, karena menambah wawasan secara langsung dari praktisi di lapangan. Mahasiswa dan staf pengajar mendapat pencerahan tentang terorisme, bahasa, profesionalisme jurnalis, dan dunia media pada umumnya. Gaya jurnalis AJI berinteraksi dengan mahasiswa dan materi yang menarik (juga penting), membuat mahasiswa betah sampai akhir. Peserta kuliah tamu yang berjumlah sekitar 50 orang, tak hanya dari Prodi Ilmu Komunikasi, sangat antusias mengikuti kegiatan. Ade Chandra, S.Sos, M.Si., menyatakan kuliah tamu ini akan terus dilakukan dengan berbagai topik dan tamu sesuai matakuliah yang ada di prodi Ilmu Komunikasi.