Prodi PMD STPMD Jogjakarta Upayakan Cetak Lulusan Profesional

Jika biasanya mahasiswa yang tengah menimba ilmu di kampus menggunakan seragam sesuai ketentuan kampus, atau menggunakan pakaian bebas nan rapi. Namun, ada yang berbeda di salah satu ruang kuliah Program Studi (Prodi) Pembangunan Masyarakat Desa Diploma III Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD “APMD”) Jogjakarta, mahasiswanya malah menggunakan seragam PNS. “Di sini khusus mendidik perangkat desa dan penggiat desa demi pembangunan desa yang lebih baik,” ungkap Sekretaris Prodi PMD STPMD Jogjakarta Sri Suminar.

Sehingga tidak heran jika mahasiswa prodi PMD STPMD Jogjakarta sebagian besar merupakan komponen perangkat desa. Seperti kepala dukuh, kepala desa, kepala seksi, bahkan bendahara desa juga kuliah di sini. “Memang mahasiswanya sangat bervariasi sekali. Beberapa diantaranya merupakan Kades Wonokerto, Kades Ngestiharjo, dan Kades Pagerharjo,” jelas Minar sapaannya. Sehingga tidak heran, Prodi ini  membuka kelas sore. Pasalnya mahasiswa setiap pagi harus bekerja terlebih dahulu.

Mata kuliah yang disajikan pun seputar pendampingan desa. Seperti, pengorganisasian masyarakat, pengembangan lembaga kemasyarakatan desa, pengelolaan aset desa, pengelolaan keuangan desa, perencanaan pembangunan desa, metode penelitian pedesaan, dan sosiologi pedesaan. “Semua mata kuliah mengarah kepada semua hal yang berkaitan dengan desa. Semua yang dibutuhkan oleh desa disediakan, terutama desa-desa yang ada di pelosok,” tandasnya.

Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan prodi ini juga  menerima mahasiswa fresh gareduate dari lulusan SMA yang sebelumnya memang belum pernah punya pengalaman menjadi perangkat desa untuk bergabung.Minar menjelaskan saat ini kebutuhan peningkatan perangkat desa sangat mendesak, sehingga kurikulum yang diterapkan juga menyesuaikan dengan kebutuhan perangkat desa. “Setiap lima tahun sekali kurikulum dievaluasi selaras dengan kebutuhan Desa,” tegasnya.

Peminat Prodi PMD STPMD Jogjakarta dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2017 peminatnya bahkan sudah meningkat sebanyak 100 persen. Oleh karena itu, khusus tahun ajaran 2017/2018 Prodi PMD STPMD Jogjakarta mampu membuka tiga kelas untuk perangkat desa. Terbagi menjadi dua kelas perangkat desa, dan satu kelas  terdiri dari perangkat desa dan kelas reguler. “Semoga tahun ajaran selanjutnya, peminatnya akan bertambah,” harap Minar.

Keunggulan prodi PMD STPMD Jogjakarta yaitu punya ilmu yang sangat spesifik. Sehingga ke depannya lulusan dicetak untuk betul-betul profesional, tentunya sesuai dengan yang sudah diajarkan di kampus. “Karena diploma III, jadi kami lebih banyak praktik. Setiap mata kuliah, selalu dipraktikkan di desa. Sasaranya memang betul-betul adalah masyarakat,” jelasnya. Minar berharap lulusan nantinya bisa menjadi pendamping desa yang kompeten di bidangnya, serta selalu mengikuti perkembangan zaman sesuai dengan kebutuhan masyarakat. SUKARNI MEGAWATI/RADAR JOGJA